Senin, 26 Maret 2012

TENTANG PLATO


A.    Pendahuluan
Ajaran tentag ide-ide merupakan inti dan dasar seluruh filsafat Plato. Untuk mengartikan maksud Plato dengan istilah “Ide” terlebih dahulu kita harus menekankan bahwa Plato mempunyai maksud lain dari pada arti yang di maksudkan orang muderen. Dengan kata “Ide” Dalam bahasa-bahasa mederen kata “Ide” berarti suatu gagasan atau tanggapan yang hanya terdapat dalam pemikiran saja. Konsekoensi-nya bagi
orang muderen Ide merupakan sesuatu yang bersifat subjektif belaka. Lain halnya menurut Plato, Menurutnya ide adalah merupakan sesuatu yang objektif. Ada ide-ide terlepas dari subjek yang berfikir. Ide-ide tidak diciptakan oleh pemikiran kita. Ide-ide tidak tergantung pada pemikiran: sebaliknya, pemikiran tergantung pada ide-ide justru karena ide-ide yang berdiri sendiri, pemikiran kita dimungkinkan. Pemikira itu tidak lain dari pada menaruh perhatian kepada ide-ide itu.[1] Dan juga masalah Dunia edia dan Etika, yang akan di bahas pada makalah ini,
B.     Pembahasan
A.    Sejarah Plato
Plato adalah filosof yunani yang memiliki banyak karnya-karyanya yang masih utuh. Ia dilahirkan dari keluarga yang terkemuka, dari kalangan politis.semula ia ingin bekerja sebagai seprang politikus, akan tetapi kematian sokrates memadamkan ambisinya untuk menjdi seorang politikus.selama 8 tahun ia menjadi murid Sokrates. Ia banyak pepergian sampai ke Italia dan Sisilia. Setelah kembali dari pengembaraannya, ia mendirikan sekolah Akademi ( dekat kuli pahlawan Akademos). Maksud Plato mendirikan sekolah itu untuk memberikan pendidikan yang intensip dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Ia meminpin Akademi itu selama 40 tahun.
Banyak sekali hasil karyanya yang masih utuh lengkap. Kesukarannya, terletak disini, bahwa sukar untuk membedakan antara hasil karyanya yang asli tetapi yang dikatakan sebagai ditulis olehnya. Barangkali pembagian yang mendekati kebenaran adalah pembagian yang didasarkan atas patokan lahiriah, dalam lima kelompok, yaitu: karyanya ketika ia masih muda, karyanya pada tahap peralihan, karyanya yang mengenai idea-idea,karyanya pada tanhap kritis dan karya-karynya pada masa tuanya, diantara buku-buku yang dtulisnya ialah: Apologia, Politia dll. Kecuali beberapa buah karyanya, pada umumnya tulisannya disusun dalam bentuk dialog.[2]
B.     Teore Tentang Etika
Membahas tentang Etika Plato tanpa mengaitkannya dengan teori Ide merupakan teori yang tidak lengkap. Menurut plato, tujuan hidup manusia ialah kehidupan yang senang dan bahagia, dan manusia harus mengupayakan kesenangan dan kebahagiaan hidup itu. Barang kali kita pun sepakat dengan pendapat plato tersebut, walaupun kebahagiaan dalam persepsi kita mungkin berbeda-beda. Misalnya ada yang mempersepsikan kebahagiaan itu dengan kebahagiaan memiliki harta, tahta, dan wanita. Atau kebahagiaan berupa kekayaan bathin, keimanan kepada Tuhan dan yang lain sebagainya. Namun menurut plato kebahagiaan dan kesenangan hidup harus di lihat dalam hubungan kedua dunia. Yaitu di samping kebahagiaan Indrawi yang lebih penting lagi adalah kebahagiaan yang hakiki yang berkaitan erat dengan batin yaitu dunia “Ide”. oleh karena itu untuk memenuhi tuntutan kebahagiaan dalam dunia ide manusia harus senantiasa berbuat hal-hal yang baik, karena dunia yang sebenarnya menurut plato adalah dunia Ide, jadi segala ide tentang kebaikan dan kebajikan adalah sebagai ide yang tertinggi yang ada di dunia Ide.
Saat filsafat plato sampai kepada kesimpulan bahwa kebaikan dan kebajikan adalah sebagai ide tertinggi di dunia ide, kita teringat akan Tuhan, Tuhan adalah puncak dari segala kebaikan dan kebajikan yang selalu menuntun dan menunjukkan jalan yang lurus dan terbaik bagi kita. Bila di atas telah di tuliskan bahwa dunia yang sebenarnya menurut plato adalah dunia Ide, maka bagi Plato dunia realitas (indrawi) hanyalah kenyataan yang ada dalam bayangan atau lebih jelasnya bahwa dunia indrawi ini hanyalah tiruan dari dunia yang menurut plato dunia yang sebenarnya yaitu dunia “Ide”.
 Manusia sebagai makhluk Etikal hanya sementara berada di dunia indrawi, dan selama manusia berada di dunia Indrawi tersebut. menurut Plato “manusia selalu rindu untuk naik keatas yaitu dunia Ide”. dia rindu kebaikan tertinggi, oleh karena itulah meskipun manusia itu mungkin berbuat yang tidak baik, namun nurani selalu menimbang, nurani akan selalu mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu tidak pantas kita perbuat, dan kita sadari atau tidak. nurani kita akan selalu menolaknya Agar manusia itu siap kembali kedunia ide, maka Selama ia hidup di dunia indrawi ia harus memiliki pengetahuan yang disempurnakan oleh pengertian yang seluas-luasnya dan yang sedalam-dalamnya, mengupayakan semaksimal mungkin untuk meraih pengetahuan yang benar yang disebut ilmu kebijaksanaan dan berbudi baik (Etika). Pengetahuan yang benar itu akan menuntun seseorang kepada kebijaksanaan dan berbudi baik dan sampai kepada pengenalan akan Ide-Ide yang merupakan kebenaran yang sejati.
Berbuat baik kata Plato akan mendatangkan kesenangan yang tak terlukiskan, mereka itulah yang walaupun berada di dunia Indrawi akan sanggup hidup seolah-olah berada di dunia Ide yang menghadirkan ide-ide tentang kebaikan dan kebajikan di tengah-tengah kehidupan dunia, dan seperti yang telah kita ulas diatas, bahwa predikat pencapayan dua Ide ini hanya dapat di peroleh melalui pengetahuan dan akal budi yang luhur.[3]
C.     Teore Tentang Idea
            Idea (bhs. Yunani, idea, bentuk, atau pola)  yang mana dalam kamus Filsafat  mempunya beberapa arti diantaranya,
a)      Segala sesuatu yang merupakan isi (objek, pokok) kesadaran; suatu tindak kesadaran.
b)      Sebuah banyangan atau gambaran mental tentang sesuatu.
c)      Keserupaan, representasi, atau esensi yang nyata dari sesuatua yang menjelma dalam sebuah objek dan di cerap oleh akal.
d)     Perhatian, pemikiran, kesan mental, atau konsep umum.
e)      Sesuatu yang dihayalkan difiksikan, atau dibayangkan.
f)       Sebuah keyakinan pendapat, dugaan, atau doktrin yang dipegang.
g)      Sesuatu yang dirancang atau diniyatkan untuk terjadi, seperti rencana.
h)      Sebuah arketip, ideal, atau pola yang diteladani[4]
Dalam masalah idea demikianlah plato berhasil menjembatani pertentangan yang ada antara Herakleitos.( Heraclitus of Ephesus, 540-475 SM, filosuf yunani yang di kenal sebagai “filosuf perubahan” “filosuf dalam gelap” “filosuf yang  menanges” “dan sinting” setelah Heraclitus[5] ) yang menyangkal tiap perhentian, dan permanides. Yang menyangkal tiap gerak dan perubahan. Yang tetap, yang tidak berubah. Yang kekal itu menurut plato disebut “Idea”.
Bagi plato idea bukanlah gagasan yang hanya terdapat di dalam pikiran saja. Yang bersifat subjektif. Idea ini bukan gagasan yang di buat manusia, yang ditemukan manusia, sebab idea ini bersifat objektif, artinya berdiri sendiri, lepas dari subjek yang berfikir, tidak tergantung pada pemikiran manusia, akan tetapi justru sebaliknya. Idealah yang memimpin pikiran manusia. Tiap orang berbeda dengan orang lain, tidak ada dua orang yang presis sama. Akan tetapi dua-duanya sama-sama manusia. Hal ini disebabkan karena tiap manusia mendapat bagian dari pada idea manusia. Tiap manusia mengungkpkan dengan cara masing-masing idea manusia yang bersifat umum itu. Idea manusia ini bersifat kekal, tidak berubah, akan tetapi idea ini tidak bisa di ungkapkan secara sempurna pada tiap-tiap manusia. Segala sesuatu yang kita ketahui melalui pengamatan, yang beranikaragam dan serba berubah itu adalah pengungkapan idea-ideanya, yang adalah gambaran asliny, atau pola aslinya. Jadi tiap pengamatan mengengatkan kita kembali kepada idea-idea dari hal yang dimatikan.
Perbedaan antara Sokrates dan plato tentang masalah idea. Adalah demikian: Sokrtes mengusahakan adanya definisi tentang hal yang bersifat umum guna menentukan hakekat atau esensi segala sesuatu karena ia tidak puas dengan mengetahui hanya tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan satu persatu saja. Plato merumuskan usaha itu secara lebih maju lagi dengan mengemukakan, bahwa hakikat atau esensi segala sesuatu bukan hanya sebutan saja. Tetapi memiliki kenyataan yang lepas dari pada sesuatu yang berbeda secara kongkrit, yang ia sebut idea. Idea itu nyata ada di dalam duia idea.[6]
D.    Dunia Edea
Jadi macam-macam dunia itu ada dua. Yaitu dunia ini, yag serba berubah dan serba Jamak, dimana tiada hal yag sempurna didunia ini, dunia yag diamati dengan indra yang bersifat indra, yang bersifat indrawi, dan dunia idea, dimana tiada perubahan, tada kejamakan (dalam arti ini. Bahwa yang baik hanya satu, yang adil hanya satu dan yang indah hanya satu saja) yang bersifat kekal
Hubunga antara kedua dunia itu adalah bahwa idea-idea dari dunia atas itu hadir dalam benda yang kongkrit (misalnya: idea manusia berada pada tiap manusia dan setrusnya,) dan dunia bawah adalah sebaliknya dunia atas, yaitu benda-benda itu berpartisipasi dengan idea-idea-nya arinya mengambil bagian dalam idea-nya. Bukan hanya idea satu saja, melainkan dapat juga lebih, (misalnya: bunga bagus , berpartisipasi dengan idea bunga dan idea bagus.) dengan demikia idea-idea itu berfungsi sebagai mudal atau contoh benda-benda yang kita amati di dalam dinia ini.
Telah kami singgung diatas bahwa didalam dunia idea tiada kejamakan. Dalam arti ini bahwa “yang baik” hanya satu saja, dan seterusnya, sehigga tiada bermaca-macam “yang baik” akan tetapi ini tidak berarti bahwa dunia idea itu hanya terdiri satu idea saja, ada banyak idea oleh karena itu dilihat dari segi lain-nya harus juga dikatakan bahwa ada kejamakan, ada bermaca-macam idea. Idea manusia, binatang, dan lain sebagainya. Idea yang satu dihubungkan dengan idea yang lain. (misalnya seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa idea bunga dikaitkan dengan bagus, idea api dikaitkan dengan idea panas, dan sebagainya.) hubungan dengan idea-idea ini disebut Koinonia(persekutuan). Didalam dunia idea itu ada juga hierarki, misalnya idea anjing termasuk idea. temasuk idea binatang menyusui, termasuk idea binatang, termasuk idea mahluk, dan juga seterusnya dan segala idea itu jikalau disusun secara hirarkis memiliki idea “yang baik” sebagai puncaknya yang menyenari segala idea.[7]  
E.     Negara Edeal
Membicarakna tentang Negara yang adalah puncak filsafat Plato, bahwa Plato menekankan kepada kebenaran yang di luar dunia ini, hal itu tidak berarti bahwa ia bermaksud melarikan diri dari dunia. Dunia yang kongkrit ini dianggap penting juga, hanya saja hal yang sempurna tidak dapat dicapai di dunia ini, namun kita harus berusaha hidup sesempurna mungkin dalam hal ini tampak jelas ajarannya tentang Negara.
Persoalan pokok di dalam Negara ialah keselamatan para orang yang diperintah, bukan keselamatan para orang yang memerintah. Para orang yang memerintah harus mempersembahkkan hidup mereka bagi pemerintahan, dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Ø  Menurut Plato, golongan-golongan di dalam Negara yang Ideal harus trdiri dari tiga bagian:
1)            Golongan yang tertinggi, yang terdiri dari para yang mem\\erintah, yang oleh Plato disebut para penjaga, yang sebaiknya terdiri dari para orang bijak (filusuf), yang mengetahui apa yang baik. Kebajikan golongan ni adalah kebijaksanaan.
2)            Golongan pembantu yaitu para perajurit, yang bertujuan menjamin keamanan, menjamin ketaatn warga Negara kepada pimpinan para penjaga. Kebajikan mereka adalah keberanian.
3)            Golongan terendah, yang terdiri dari rakyat biasa, para petani, dan tukang serta para pedagang, yang harus menanggung hidup ekonmi Negara. Kebajikan mereka adalah pengendalian diri.
C.    Kesimpulan
Jadi bagi plato idea bukanlah gagasan yang hanya terdapat di dalam pikiran saja. Melainkan hal yang bersifat subjektif. Idea ini bukan gagasan yang di buat manusia, akan tetapi yang ditemukan manusia, sebab idea ini bersifat objektif, (artinya dengan berdirinya sendiri), lepas dari subjek yang berfikir, tidak tergantung pada pemikiran manusia, akan tetapi justru sebaliknya. Idealah yang memimpin pikiran manusia. karena tiap orang berbeda dengan orang lain, tidak ada dua orang yang persis sama. Akan tetapi dua-duanya sama-sama manusia. Hal ini disebabkan karena tiap manusia mendapat bagian dari pada idea manusia.
Dan jika Persoalan pokok di dalam Negara Sebenarnya Plato pernah mendapat kesempatan untuk merealisasikan pemikirannya tentang Negara ideal yaitu antara tahun 367-361 SM, di Sirakusa, Sisilia. Pada waktu itu Plato mengajar Dionisius II, yang terkenal sebagai raja Tirani muda, Plato benar-benar ingin merealisasikan filsafatnya tentang Negara dan pemerintahan, bahkan ia berpendapat bahwa kesengsaraan didunia tidak akan berakhir sebelum filosof menjadi raja atau raja-raja menjadi filosof. Akan tetapi, ajaran Plato yang dititikberatkan kepada pengertian moral dalam segala perbuatan, lambat laun menjemukan Dionysios. Yang lebih mengerikan filsafat Plato dituding sebagai ajaran yang membahayakan bagi kerajaanya. Plato pun akhirnya ditangkap dan dijual sebagai budak.[8]
D.    Daftar Pustaka
-Dr Harun Hadiwjono, Sejarah filsafat barat, penerbitb:KANISIUS, jokjakarta
- Prf Dr, K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, penerbitb:KANISIUS, jokjakarta
-Tim penulis, Rosda “KAMUS FILSAFAT” penerbit “PT Remaja Rosdakarya-Bandung.pengantar, Jaladuddin Rakhmat, Thn 1995
-Atang Abdul Hakim, M.A., Filsafat Umum: Dari Metologi Sampai Teofilosofi, Pustaka Setia, Bandung: 2008,
-http://siligawangadangnauli.blogspot.com/2009/06/filsafat-plato-tentang-idealisme-dan.etika.com

Cafer Makalah
Makalah
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Barat
 
Oleh:
Siti Robilah Hayaty
1110033100034
Amirul Muttaqin
1110033100056
JURUSAN AKIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011 M.

[1] Prf Dr, K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, penerbitb:KANISIUS, jokjakarta, Hal, 129
[2] Dr Harun Hadiwjono, Sejarh filsafat barat, penerbitb:KANISIUS, jokjakarta, hal 38-39
[3] http://siligawangadangnauli.blogspot.com/2009/06/filsafat-plato-tentang-idealisme-dan.etika.com
[4] Tim penulis, Rosda “KAMUS FILSAFAT” penerbit “PT Remaja Rosdakarya-Bandung. Thn 1995, hal 145
[5] Tim penulis, Rosda “KAMUS FILSAFAT” penerbit “PT Remaja Rosdakarya-Bandung. Thn 1995, hal 137
[6] Dr Harun Hadiwjono, Sejarh filsafat barat, penerbitb:KANISIUS, jokjakarta, hal 40-41
[7] Dr Harun Hadiwjono, Sejarh filsafat barat, penerbitb:KANISIUS, jokjakarta, hal 41
[8] Atang Abdul Hakim, M.A., Filsafat Umum: Dari Metologi Sampai Teofilosofi, Pustaka Setia, Bandung: 2008, hal. 192.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar