Senin, 26 Maret 2012

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA BANI ABBASIYAH


A.    PENDAHULUAN
Bani Abbasiyah atau Kekhalifahan Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia
. Kekhalifahan ini berkuasa setelah direbutnya tampuk kekuasaan dari Bani Umayyah dan menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau khilafah Abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti bani umayah, dinamakan khilafah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim.
Maka dari itu kami ingen menjelaskan latar belakang berdirinya Bani Abbasiyah, khalifah-khalifahnya, masa kejayaaan dan bukti kejayaannya, dan faktor-faktor runtuhnya dinasti tersebut.
B.     LATAR BELAKANG
Bani Abbasiyah berdiri pada tahun 132 H / 750 M, Bani Abbasiyah terbentuk karena Bani Hasyim sudah tidak tahan dengan kekacauan, dan penindasan yang terjadi pada saat itu oleh Bani Umayyah. Oleh karena itu Bani Hasyim secara diam-diam membentuk suatu gerakan rahasia untuk menumbangkan bani umayyah gerakan ini terdiri dari: [1]
1)      Keturunan Ali ( Alawiyin) pemimpinnya Abu Salamah
2)      Keturunan Abbas ( Abbasiyah) pemimpinnya Ibrahim Al-Imam
3)      Keturnan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim Al-Khurasany
Dinamakan Abbasiyah karena para pendiri dan para penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Kekuasaan yang berlangsung cukup lama ini dimulai dari tahun 132 H ( 750 M) - 656 H ( 1258 M ).
Bani Abbasiyah memiliki corak pemerintahan yang berbeda-beda sesuai dengan perubahan sosial, politik dan budaya dan perubahan corak itu terbagi menjadi lima periode:[2]
1)      Periode pertama ( 132 H/ 750 M- 232 H/ 847 M ), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2)      Periode kedua ( 232 H/ 847 M -334 H / 945 M ) disebut pengaruh turki pertama.
3)      Periode ketiga ( 334 H/ 945 M-447 H/ 1055 M ), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khlifah abbasiyah periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4)      Periode keempat ( 447 H/  1055 M-590 H/ 1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah biasanya disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua.
5)      Periode kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad.
Pada periode pertama pemerintahan bani abbas mencapai masa keemasannya, para khalifah merupakan tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama. Disisi lain masyarakat mencapai tingkat kemakmuran tertinggi, periode ini merupakan persiapan dan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan bani abbas mulai menurun dalam bidang politik, tapi filsafat dan ilmu pengetahuan terus dan semakin berkembang.[3]
C.    MASA PEMERINTAHAN
Masa pemerintahan Abu al-Abbas sangat singkat yaitu dari tahun 750 M-754M. Namun, pembina sebenarnya adalah Abu Jafar al-Mansur(754 M-775M). dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaan.
Pada mulanya ibukota Negara adalah al-Hasyimiyyah, dekat Kuffah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas Negara yang baru berdiri itu, al-Mansur memindahkan ibukota Negara kekota yang baru dibangunnya, yaitu Baghdad tahun 762 M. di ibukota yang baru ini al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahan dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan dilembaga eksekutif dan yudikatif. Al-Mansur menciptakan banyak perubahan dibidang pemerintahan seperti mengangkat Wazir sebagai coordinator departemen, membentuk lembaga protocol Negara, sekretaris Negara, dan kepolisian negara, dan masih banyak lagi perubahan yang dilakukan pada masa pemerintahan al-Mansur.
D.    KHALIFAH-KHALIFAH BANI ABBASIYAH

khalifah Abbasiyah di Baghdad[4]

khalifah Abbasiyah di Kairo

E.     MASA KEJAYAAN DAN BUKTI KEJAYAANNYA
Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M), al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).
Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.
Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma'mun (813-833 M). Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.
Al-Ma'mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli (wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Al-Mu'tasim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi'ah, dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.
Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Disamping itu, ada pula ciri-ciri menonjol dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah.[5]
  1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. Sedangkan dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini.
  2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.
Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:[6]
  1. Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.
  2. Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana
Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat, yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa'. Ibnu Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. Pada masa kekhalifahan ini, dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu inovasi besar pada masa ini adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan, sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.
F.     FAKTOR-FAKTOR KEMUNDURAN ATAU RUNTUHNYA DINASTI ABBASIYAH
Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini, kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan, sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama, namun setelah periode ini berakhir, peradaban Islam juga mengalami masa kemunduran. Wallahul Musta’an. Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada masa ini, sehingga banyak daerah memerdekakan diri, adalah:
  1. Persaingan antar bangsa yang terjadi pada masa itu dipicu oleh pemerintahan Bani Abbas yang tetap mempertahankan persekutuan dengan orang-orang Persia. Akibat dari kebijakan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada politik itu, propinsi-propinsi tertentu dipinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas, dengan berbagai cara di antaranya pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.
  2. Terjadinya perebutan kekuasaan dipusat pemerintahan Bani Abbasiyah, para khalifahnya dibiarkan tetap menjabat sebagai khalifah, hal itu terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sacral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan dipusat maupun didaerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka.
  3. Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
  4. Terjadinya konflik keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme, dan Mazdakisme.
  5. Ada pula factor-faktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama, terjadinya perang salib yang berlangsung beberap periode atau beberapa gelombang dan menelan banyak korban. Kedua, serangan tentara Mongol kewilayah kekuasaan Islam.
G.    DAFTAR PUSTAKA
·         Hassan, Hassan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam,(Yogyakarta: Penerbit Kota Kembang, 1989).
·         Sunanto, Musrifah, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Prenada Media, 2004).
·         Watt, W.Montgomery, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wanaca Yogya, 1990).
·         Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997).
·         http//:Wikipedia.org
Cafer Makalah
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kulliah
Sejarah Peradapan Islam (SPI)

Oleh
Amirul Muttaqin
1110033100056
Tuti Maisaroh
1110033100052
Siti Fatimah
1110033100050
JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011 M

[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik,(Jakarta: Prenada Media,2004), hal.47-48.
[2] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta:Tiara Wanaca Yogya,1990 ), hlm. 28.
[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1997), hlm. 50.
[4] http//:Wikipedia.org
[5] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik,(Jakarta:Prenada Media, 2004), hlm. 50-51.
[6] Hassan Ibrahim Hassan, op. cit., hlm. 129.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar